Dahulu, Tharn Veil merupakan sebuah pemukiman desa sebuah permata tersembunyi di pinggir aliran sungai yang jernih. Alamnya subur, tanahnya berlimpah hasil bumi, dan warganya hidup dalam keharmonisan dengan lingkungan. Air sungai menjadi sumber kehidupan—untuk minum, bertani, bahkan untuk ritual-ritual adat yang diwariskan turun-temurun. Hingga suatu hari, semuanya berubah.
Seorang pengusaha kaya datang membawa janji kemakmuran. Ia ingin mendirikan pabrik di dekat desa, menjanjikan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan bagi penduduk. Namun, warga desa menolak. Mereka tahu harga yang harus dibayar jika tanah mereka diubah menjadi kawasan industri. Sungai mereka akan tercemar, kehidupan mereka akan berubah, dan tradisi mereka akan terancam punah. Tetapi uang berbicara lebih lantang daripada suara rakyat kecil.
Pengusaha itu tidak menyerah. Dengan mudah ia menggandeng pemerintah setempat, menyalurkan suap kepada jajaran pengurus desa, dan akhirnya mendapatkan izin untuk membangun pabrik. Satu demi satu, pabrik-pabrik besar berdiri di tepi sungai. Limbah mengalir tanpa kendali, mengubah air yang dulunya bening menjadi hitam pekat beracun. Warga yang awalnya sehat mulai jatuh sakit. Penyakit aneh muncul, menyerang tubuh-tubuh mereka yang tak terbiasa dengan racun yang kini meresap dalam air dan tanah.
Desa-desa lain yang bergantung pada sungai mulai mengalami nasib serupa. Penyakit menyebar, menyebabkan kematian massal. Nhao Nhao pun tak bisa menghindarinya. Warga yang masih hidup menggantungkan harapan terakhir mereka pada sumur-sumur tua, tapi tanah pun telah tercemar. Setiap tegukan air membawa penderitaan. Anak-anak menangis dalam demam, orang tua meregang nyawa dalam kesunyian. Sementara itu, tenaga medis yang terbatas tidak mampu menangani wabah yang terus berkembang.
Mereka meminta bantuan. Tapi tak ada yang datang. Pemerintah diam, pura-pura buta terhadap penderitaan rakyatnya. Bagi mereka, desa-desa ini hanya penghalang bagi rencana besar yang lebih menguntungkan. Daripada menyelamatkan segelintir orang, lebih baik mereka menghilangkan desa itu sepenuhnya. Maka, desa-desa yang dulu ramai mulai menghilang satu per satu. Warga yang tersisa berusaha melarikan diri, namun tak ada tempat untuk mereka.
Ketika malam-malam tanpa harapan menyelimuti Nhao Nhao, keputusasaan mencapai puncaknya. Tak ada lagi yang tersisa kecuali reruntuhan rumah dan sunyi yang menyesakkan. Mereka yang masih bertahan, yang telah kehilangan segalanya, akhirnya meninggalkan desa itu, bukan sebagai manusia yang sama seperti dulu, tetapi sebagai bayang-bayang dari kehidupan mereka yang telah direnggut. Mereka membentuk komunitas di tempat yang tak tercatat dalam peta, sebuah desa yang berdiri di luar perhatian dunia. Desa itu menjadi mitos, sebuah nama yang hanya berbisik di antara mereka yang mengetahui kebenaran.
Desa itu kini disebut Tharn Veil, tirai kabut yang menyembunyikan luka dari masa lalu, tempat di mana arwah mereka yang terbuang masih bergentayangan, menunggu keadilan yang tak pernah datang.